20 September 2007

BENCANA KABUT ASAP

oleh: KURNIAWANSYAH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setiap musim kemarau kita selalu diganggu asap. Sejumlah kota di Riau maupun Kalimantan disergap asap. Jarak pandang terganggu, aktivitas sosial dan ekonomi pun terganggu. Di laut lepas, di Selat Malaka, maupun di sejumlah sungai yang padat transportasi air menjadi sangat rawan kecelakaan. Sejumlah bandara sesekali tutup karena jarak pandang tak mencukupi untuk keselamatan penerbangan. Dua negara tetangga kita–Malaysia dan Singapura–terkena dampak yang sama.
Masalah itu selalu berulang, tak kunjung ada penyelesaian yang permanen. Padahal penyebabnya sudah jelas: Kebakaran hutan. Hal itu dilakukan oleh pemilik hak pengusahaan hutan (HPH) maupun oleh petani tradisional. Motifnya adalah untuk membuka lahan perkebunan baru maupun untuk lahan pertanian baru. Membuka lahan baru dengan membakar adalah cara yang paling hemat dan cepat. Berdasarkan foto satelit, juga bisa diketahui di mana saja ada titik-titik api yang menjadi pusat kebakaran tersebut. Namun, semua kemajuan teknologi itu sama sekali tak berpengaruh terhadap penanggulangan kebakaran hutan.
Kita seolah sudah kebal dan bebal terhadap semua persoalan. Apalagi masalahnya akan selesai dengan sendirinya begitu musim penghujan datang. Kita tak cukup punya kepedulian terhadap dampak kerusakan alam, hilangnya habitat flora dan flauna, maupun punahnya sejumlah spesies tumbuhan maupun binatang. Secara ekonomi juga sangat merugikan karena terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi maupun akibat kerusakan alamnya. Kesehatan warga yang terganggu tak pernah masuk dalam hitungan. Kita hanya resah setelah negara-negara tetangga menyampaikan protes.
Musibah asap ini terus berulang setiap musim kemarau. Hingga saat ini seperti tidak ada jalan keluar yang bisa mengatasi musibah rutin tersebut. Tiap tahun banjir titik api kebakaran hutan. Data Walhi mengungkapkan bahwa setiap tahun Indonesia memproduksi lebih dari 40 ribu titik api. Angka ini menurun pada tahun 2006 menjadi 39 ribuan karena tingginya angka curah hujan.


Awal Oktober 2006 asap akibat pembakaran lahan di Sumsel, Jambi, dan Lampung bergeser ke wilayah Riau, kemudian menutupi Kota Batam, Kabupaten Bintan, dan Karimun. Kabut asap terus bergeser, menyelimuti udara Singapura dan Malaysia
Di Kalimantan Barat sendiri Laporan menebalnya kabut asap datang dari Singkawang, Sambas, Ketapang, dan Kabupaten Pontianak. Kepala Bidang Perlindungan Hutan, Dinas Kehutanan Kalbar, Sunarno, menginformasikan titik api (hotspot) di Kalbar, Selasa lalu berjumlah 127 titik. Titik api terbanyak berada di Kabupaten Ketapang sebanyak 95 buah.
Dampak yang ditimbulkan dari kabut asap ini sangat besar dan meliputi berbagai aspek kehidupan. Mulai dari social, ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Untuk itu perlu dilakukan penanganan yang lebih optimal agar bencana ini tidak terulang dikemudian hari. Oleh karena itu penulis akan mencoba untuk membahas beberapa aspek dari kabut asap yang terjadi selama ini. Agar kita semua dapat memahami atau setidaknya mengetahui apa dan bagaimana sebaiknya kita dalam menghadapai bahaya kabut asap.
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa pemahaman yang baik mengenai aspek-aspek dari kabut asap yang terjadi di Indonesia maupun di Kalimantan Barat khususnya.
1.2.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah :
a. Agar mahasiswa dapat mengetahui sejauh mana bencana kabut asap yang terjadi di Indonesia
b. Agar mahasiswa mengetahu penyebab dan proses terjadinya kabut asap
c. Agar mahasiswa mengetahui Indeks Standar Pencemaran Udara yang memenuhi syarat kesehatan
d. Agar mahasiswa dapat mengetahui dampak dari bencana kabut asap
e. Agar mahasiswa dapat mengetahui upaya penanggulangan kabut asap

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pencemaran Udara
Secara sadar atau tidak sadar manusia dalam beraktivitas menghasilkan emisi pencemar yang dilepas ke udara. Semakin meningkat jumlah aktivitas yang dilakukan serta waktu yang dipakai untuk melakukan aktivitas tersebut, maka jumlah emisi pencemar yang dikeluarkan ke udara pun semakin meningkat.
Udara sebagai kebutuhan pokok manusia dan makhluk hidup lainnya sangat berbahaya jika sudah tercemar oleh berbagai zat berbahaya. Akibat yang ditimbulkan bermacam-macam mulai dari gangguan pernapasan sampai kanker jika menghirup zat-zat tertetu dalam jangka waktu lama.
Secara umum, sumber pencemaran udara dibedakan atas :
2.1.1 Sumber Bergerak
Kegiatan transportasi, baik di darat, air maupun udara, selama menggunakan bahan baker sebagai tenaga penggerak, sudah pasti akan menghasilkan pencemaran udara. Transportasi darat, khususnya penggunaan kendaraan bermotor, merupakan sumber utama polusi di kota-kota besar. Hampir seluruh jenis zat pencemar yang beredar di udara dihasilkan dari gas buang kendaraan bermotor, yaitu partikel debu halus (PM10), karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC), timbal (Pb), nitrogen oksida (NOx), sulfur oksida(SOx).
Di Jakarta, pencemaran udara berupa PM10 dan oksida nitrogen (NOx) 70% dihasilkan oleh kendaraan bermotor pada tahun 1998.
2.1.2 Sumber Tidak Bergerak
a. Industri
Pada kegiatan ini, polusi udara dikeluarkan terutama pada proses produksi. Selain itu penggunaan peralatan seperti mesin manufaktur umumnya juga menyebabkan polusi. Jenis zat pencemar utama yang dihasilkan oleh industri adalah PM10 dan SOx
b. Pembangkitan tenaga listrik
Kegiatan pembangkitan tenaga listrik di Indonesia umumnya masih menggunakan batu bara, bahan bakar yang menghasilkan polusi paling besar dibandingkan minyak dan gas. Penggunaan listrik yang boros secara tidak langsung menghasilkan polusi yang cukup berarti.
Jenis pencemar utama yang dihasilkan antara lain N0x dan S0x
c. Kebakaran hutan
Musim kemarau panjang seringkali menyebabkan terjadinya kebakaran hutan akibat gesekan ranting-ranting pohon yang kering. Namun pada dekade terakhir ini, kebakaran hutan seringkali disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, dengan alasan untuk membuka lahan hutan. Jenis pencemar yang dominan yang dihasilkan yaitu CO.
d. Pembakaran sampah
Hidrokarbon (HC) dalam bentuk metana (CH4)
Kurangnya sistem penanganan sampah yang baik, menyebabkan masyarakat berinisiatif untuk menangani sampah sendiri dengan membakarnya. Proses pembakaran walaupun skalanya kecil namun sangat berperan dalam meningkatkan polusi di udara.
Jenis pencemar yang dihasilkan ketika sampah tidak dibakar adalah hidrokarbon (HC) dalam bentuk metana (CH4). Ketika sampah dibakar, maka zat pencemar yang dikeluarkan terutama adalah partikel debu halus (PM10). Sementara, jika terjadi pembakaran sampah plastic, maka akan dihasilkan dioksin, zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
2.1.3 Sumber dalam ruangan (Indoor Pollution)
a. Kegiatan rumah tangga
Kegiatan masak-memasak yang dilakukan di dalam rumah menghasilkan polusi udara yang cukup membahayakan para penghuni rumah. Terutama jika kegiatan masak-memasak masih menggunakan tungku dan kayu bakar. Ini dikarenakan buruknya sistem sirkulasi udara, sehingga asap hasil pembakaran terkurung di dalam rumah.
b. Asap Rokok
Kita tahu bahwa asap rokok mencemari udara disekitar dan membahayakan kesehatan orang-orang di sekitar yang terpaksa harus menghirupnya. Kegiatan merokok menjadi lebih membahayakan bagi orang-orang disekitar ketika dilakukan di ruang tertutup seperti di dalam rumah, ruang kelas, restoran, di dalam angkutan umum dan juga di ruang yang ber-AC. Ini dikarenakan tidak adanya sirkulasi udara membuat asap rokok terkurung di ruang tertutup.
Alhasil semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut dipaksa untuk menghirup udara yang pastinya menyesakkan nafas dan membuat iritasi mata. Belum lagi jika kegiatan merokok dilakukan oleh banyak orang dan secara terus menerus, sehingga konsentrasi asap rokok di dalam ruangan tersebut semakin tinggi.
Selain sumber pencemaran udara di atas, juga dikenal sumber pencemaran alami yang tidak berhubungan dengan aktivitas manusia, yaitu:
· meletusnya gunung berapi
· spora tumbuhan
· proses pembusukan mahluk hidup

2.2 Kabut Asap dan Kebakaran Hutan
Kabut asap yang terjadi di Indoensia disebabkan oleh banyak faktor antara lain kebakaran hutan, polusi kendaraan bermotor, pabrik, letusan gunung berapi, pembakaran sampah rumah tangga, dan lain sebagainya. Akan tetapi yang paling dominan dalam menyebabkan kabut asap adalah kebakaran hutan.
Seperti yang kita ketahui, penyebab bencana asap ini adalah pembukaan semak belukar dan lahan gambut untuk pertanian dengan cara pembakaran. Sebagian lagi, seperti yang juga terjadi di beberapa wilayah di Sumatera, pembakaran lahan dilakukan oleh perusahaan yang membersihkan lahan untuk perkebunan. Membersihkan lahan dengan cara membakar memang gampang dan murah.
Untuk mendeteksi luasnya kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia, biasanya digunakan sistem pemantauan lewat satelit North Oceanic Atmospheric and Administration (NOAA). Kebakaran hutan dan lahan yang terdeteksi oleh satelit dinamai Hot Spot (titik panas).
Berdasarkan laporan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) pada bulan November 2006 terdapat sejumlah Hot Spot di Kalimantan dan Sumatera. Untuk di Kalimantan tersebar di beberapa propinsi antara lain Kalimantan Barat terdapat 929 titik api ( hotspot ), Kalsel tercatat 5.351 titik, Kalteng bahkan lebih spektakuler, 42.000 titik api. Di Sumatera data satelit NOAA 18, tanggal 3 Oktober terdapat 304 titik api di Pulau Sumatera. Paling banyak di Sumsel 140 titik api, Riau 64 titik api, Jambi 49 titik api, Sumbar dan Lampung masing-masing 22 titik api, dan Bangka Belitung 6 titik api.
Menurut data Dinas Kuhutanan Kalimantan Barat di wilayah ini terdapat sebanyak 929. Jumlah itu tersebar di 11 kabupaten/kota. Sintang 6 titik, Sekadau 1 titik, Sanggau 69 titik, Sambas 209 titik, Kabupaten Pontianak 210 titik, Melawi 19 titik, Landak 46 titik, Ketapang 215 titik, Kapuas Hulu 63 titik, Singkawang 1 titik, dan Bengkayang 26. Hotspot juga tampak di Kalteng sebanyak 302, dan Sarawak sebanyak 59 titik. Untuk lebih jelas Hot Spot di pulau Kaliamantan dapat dilihat pada gambar berikut :









Banyaknya Hot Spot tersebut menyebabkan kabut asap semaikin tebal sehingga menyebabkan jarak pandang sangat terbatas. Hal ini sangat mengganggu segala aktifitas sekita sehari-hari. Selain mengganggu di negara sendiri, kabut asap juga mengganggu negar tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Bahkan presiden sampai menyampaikan permintaan maaf secara resmi atas gangguan kabut asap yang berasal dari Indonesia ini.

2.3 Penyebab Kebakaran Hutan
Kalau ditelusuri, banyak sekali alasan kompleks yang telah dikemukakan oleh para pakar, tapi secara kasar, ada dua alasan utama yang palin masuk akal untuk diungkapkan . Pertama, ada budaya instan di tengah masyarakat yang serba mau cepat. Budaya instan di kawasan pedesaan biasanya menginginkan pembersihan perkebunan dan ladang yang serba cepat, membuka lahan yang ingin segera luas, dan seterusnya. Kultur ini sebenarnya kultur lama yang dilakukan oleh suku-suku pedalaman yang dicontoh juga oleh pengusaha perkebunan yang mengambil sikap tak mau menunggu untuk membersihkan lahan hutan bagi perkebunan mereka.
Kedua, sikap tidak pernah mau belajar dalam mengambil kebijakan. Walaupun telah terjadi kebakaran hebat yang mengakibatkan bencana sehingga tahun 2000 terjadi kebakaran hutan paling luas di dunia, saat datang hujan dan kebakaran padam, semuanya lalu lupa sehingga kebakaran hutan teruis terjadi dan berkelanjutan ditahun-tahun berikutnya tanpa ada upaya-upaya untuk mencegahnya.
Selain itu dukungan cuaca yang pada bulan-bulan tertentu kelembaban udara yang rendah sehingga cenderung kering menyebabkan hutan mudah terbakar. Faktor angin yang meniup kencang juga menyebabkan jumlah titik api dengan cepat menyebar dan sulit untuk dipadamkan. Pada saat hujan turun maka kualitas udara semakin memburuk karena asap dan debu sisa pembakaran akan naik keudara dan terhirup oleh kita.

2.4 ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara)
Kualitas udara disampaikan ke masyarakat dalam bentuk indeks standar pencemar udara atau disingkat ISPU. ISPU adalah laporan kualitas udara kepada masyarakat untuk menerangkan seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara kita dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan kita setelah menghirup udara tersebut selama beberapa jam atau hari. Penetapan ISPU ini mempertimbangkan tingkat mutu udara terhadap kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, bangunan, dan nilai estetika. Berdasarkan Keputusan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Nomor KEP-107/Kabapedal/11/1997, penyampaian ISPU kepada masyarakat dapat dilakukan melalui media massa dan elektronika serta papan peraga di tempat-tempat umum.
ISPU ditetapkan berdasarkan 5 pencemar utama, yaitu: CO, SO2, NO2, Ozon permukaan (O3), dan partikel debu (PM10).
· PM 10
PM merupakan kependekan dari particulate matter atau partikulat. Partikulat merupakan zat pencemar padat maupun cair yang terdispersi di udara. Partikulat ini dapat berupa debu, abu, jelaga, asap, uap, kabut, atau aerosol. Jenis-jenis partikulat dibedakan berdasarkan ukurannya. Partikel yang sangat kecil dapat bergabung satu sama lain membentuk partikel yang lebih besar.
Partikulat dalam emisi gas buang dapat terdiri atas bermacam-macam komponen. Beberapa unsur kandungan partikulat adalah karbon (dari pembakaran tidak sempurna) dan logam timbel (dari pembakaran bensin bertimbel). Sebagian partikulat keluar dari cerobong pabrik sebagai asap hitam tebal. Tetapi, yang paling berbahaya adalah butiran-butiran halus sehingga dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Jika ini yang terjadi, organ pernapasan akan terganggu. Standar baku mutu yang diperbolehkan adalah 150 ug/Nm3
· SO2
SO2 merupakan rumus kimia untuk gas sulfur dioksida. Gas ini berasal dari hasil pembakaran bahan bakar yang mengandung sulfur. Selain dari bahan bakar, sulfur juga terkandung dalam pelumas. Gas sulfur dioksida sukar dideteksi karena merupakan gas tidak berwarna. Sulfur dioksida dapat menyebabkan gangguan pernapasan, pencernaan, sakit kepala, sakit dada, dan saraf. Pada kadar di bawah batas ambang, dapat menyebabkan kematian. Korban sulfur dioksida bukan hanya manusia, tetapi juga bangunan dan tumbuhan. Keberadaan gas ini di udara dapat menimbulkan hujan asam yang merusakkan bahan bangunan dan menghambat pertumbuhan tanaman. Standara baku mutu yang diperbolehkan adalah 365 ug/Nm3
· CO
CO merupakan rumus kimia untuk gas karbon monoksida. Gas ini dihasilkan dari pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna. Pembakaran tidak sempurna, salah satu sebabnya adalah kurangnya jumlah oksigen. Bisa karena saring udara yang tersumbat, bisa juga karena karburator kotor dan setelannya tidak tepat. Asap kendaraan merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di berbagai perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60 persen pencemaran udara di kota-kota besar disumbang oleh transportasi umum. Karbon monoksida bersifat racun, mengakibatkan turunnya berat janin, meningkatkan jumlah kematian bayi, serta menimbulkan kerusakan otak. Standar baku mutu yang diperbolehkan adalah 10.000 ug/Nm3
· O3
O3 merupakan lambang dari ozon. Senyawa kimia ini tersusun atas tiga atom oksigen. Ozon merupakan gas yang sangat beracun dan berbau sangit. Ozon terbentuk ketika percikan listrik melintas dalam oksigen. Adanya ozon dapat dideteksi melalui bau (aroma) yang ditimbulkan oleh mesin-mesin bertenaga listrik. Secara kimiawi, ozon lebih aktif ketimbang oksigen biasa dan juga merupakan zat pengoksidasi yang lebih baik.
Biasanya, ozon digunakan dalam proses pemurnian (purifikasi) air, sterilisasi udara, dan pemutihan jenis makanan tertentu. Di atmosfer, terjadinya ozon berasal dari nitrogen oksida dan gas organik yang dihasilkan oleh emisi kendaraan maupun industri. Di samping dapat menimbulkan kerusakan serius pada tanaman, ozon berbahaya bagi kesehatan, terutama penyakit pernafasan seperti bronkitis maupun asma. Standar baku mutu yang diperbolehkan adalah 235 ug/Nm3 pada pengukuran selama 1 jam
· NO2
NO2 singkatan dari nitrogen dioksida. Zat nitrogen dioksida sangat beracun sehingga dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan saluran pernapasan serta menimbulkan kerusakan paru-paru. Gas ini terbentuk dari hasil pembakaran tidak sempurna. Setelah bereaksi di atmosfer, zat ini membentuk partikel-partikel nitrat sangat halus sehingga dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Partikel-partikel nitrat ini pula, jika bergabung dengan air baik air di paru-paru atau uap air di awan akan membentuk asam. Asam ini dapat merusakan tembok bangunan dan menghambat pertumbuhan tanaman. Jika bereaksi dengan sisa hidrokarbon yang tidak terbakar, akan membentuk smog atau kabut berwarna cokelat kemerahan. Standar baku mutu yang diperbolehkan adalah 150 ug/Nm3
Agar lebih mudah dipahami ISPU dapat dibayangkan seperti penggaris angka 1 hingga 1000. Semakin tinggi nilai ISPU maka semakin tinggi tingkat pencemaran dan semakin berbahaya dampaknya terhadap kesehatan. Sebagai contoh, ISPU 30 menunjukkan kualitas udara baik dan tidak ada dampak yang berbahaya terhadap kesehatan.
Ketika kondisi ISPU di bawah 100 dipandang tidak berbahaya terhadap masyarakat secara umum. Namun ketika ISPU beranjak melebihi 100 maka pertama-tama kelompok masyarakat yang sensitif seperti penderita asma dan anak-anak serta orang dewasa yang aktif di luar ruangan, akan paling awal merasakan dampak kualitas udara yang tidak sehat. Sejalan dengan meningkatnya ISPU maka akan semakin banyak yang merasakan dampak, hingga akhirnya seluruh masyarakat akan menderita karena dampak kesehatan yang terjadi.
KATEGORI RENTANG WARNA PENJELASAN
Baik 0 - 50 Hijau Tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika
Sedang 51 - 100 Biru Tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitive dan nilai estetika
Tidak Sehat 101 - 199 Merah Tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitive atau bias menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika
Sangat Tidak Sehat 200 - 299 Kuning Tingkat kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar
Berbahaya 300 - lebih Hitam Tingkat kualitas udara berbahaya yang secara umum dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi

2.5 Dampak Kabut Asap
2.5.1 Kesehatan
Secara umum, asap akibat kebakaran hutan telah meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) di daerah yang tingkat pencemaran udaranya tinggi. Sebagai gambaran di Kalimantan dan Sumatera nilai ISPU rata-rata melebihi 300 padahal batas normalnya di bawah 100 sehingga dampak kesehatanya begitu terasa, terutama mereka yang rentan seperti anak-anak, para manula dan mereka yang aktif liluar ruangan. Data dari Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan Departemen Kesehatan membuktikannya. Akibat adanya kabut asap, jumlah kasus ISPA di Pontianak meningkat dari 1.286 kasus pada akhir Agustus 2006 menjadi 1.928 kasus pada awal September 2006.
Data yang sama juga menyebutkan bahwa di Kalimantan Timur jumlah kasus mingguan ISPA antara 1.500 kasus hingga 2.000 kasus, lebih tinggi dari kisaran normal yang banyaknya antara 1.000 kasus hingga 1.500 kasus. Beberapa Dinas Kesehatan di Sumatra dan Kalimantan juga melaporkan bahwa masyarakat di wilayahnya mulai mengalami gangguan penyakit ISPA, pneumonia, dan sakit mata.

2.5.2 Ekonomi
Kabut asap juga dapat mengganggu sektor ekonomi. Jarak pandang yang terbatas (jarak pandang normal 1000 meter) dapat menganggu aktivitas penerbangan dan pelayaran. Hal ini tentu akan berdampak transportasi akan terganggu yang akan menyebabkan terhambatnya lalu lintas barang dan jasa.
Untuk di wilayah yang mengandalkan transportasi laut dan sungai hal ini akan sangat menganggu. Barang-barang kebutuha pokok yang seharusnya sampai di daerah pada waktunya akan terlambat sehingga menyebabkan harga barang akan naik yang menyebabkan keresahan di kalangan masyarakat.
Masyarakat dengan mata pencaharian nelayan juga mengalami hal yang sama. Tebalnya kabut asap di sungai atau laut menyebabkan nelayan tidak berani melaut karena takut tersesat atau berisiko untuk bertabrakan.
2.5.3 Hubungan Internasional
Seperti kita ketahui, kabut asap yang terjadi akibat kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan tidak hanya melanda wilayah kita sendiri tetapi juga melanda negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Negara-negara tersebut melayangkan protes ke negara kita atas kabut asap yang mereka terima. Jika hal ini terus dibiarkan maka hubungan baik dengan negara tetangga bisa terganggu.
2.5.4 Pertanian
Di wilayah Kalimantan Barat, asap tebal mulai mengancam sektor pertanian. Tebalnya kabut asap dikhawatirkan yang berlangsung secara terus-menerus dapat mengganggu produktivitas tanaman padi dan jagung. Dua jenis tanaman ini paling rentan. Kalau cuaca sampai tertutup asap sehingga tanaman tidak mendapat sinar matahari dalam jangka waktu lama, produksinya dapat menurun. Pada saat tanaman akan berfotosintesis tentu memerlukan sinar mathari yang cukup. Karena kabut yang tebak menyebabkan sinar matahari terhambat untuk menyinari bumi sehingga produksi terhambat.
2.5.5 Sosial Budaya
Aktivitas sehari sehari yang terganggu akibat kabut asap bisa menyebabkanhubungan sosial menjadi terganggu. Seperti pada bulan Ramadhan dimana ummat muslim biasanya melakukan shalat berjamaah di masjid menjadi terganggu oleh asap yang membuat mereka enggan keluar rumah. Aktivitas anak-anak yang bermain juga terganggi sehingga mereka lebih memilih berdiam diri di rumah. Sekolah-sekolah juga banyak yang diliburkan karena khawatir siswa mereka terkena dampak asap berupa ISPA dan sakit mata.

2.6 Penaggulangan Kabut Asap
Besarnya dampak yang ditimbulkan akibat bencana kabut asap yang terjadi perlu penanganan yang serius. Hal ini dilakukan agar bencana ini tidak terulang dikemudian hari. Sehingga dampak yang ditimbulkan tidak lagi menimpa kita semua. Beberapa langakah penanggulangan kabut asap yang dapat dilakukan antara lain :
1. Komitmen dari pemerintah
Masalah kabut asap tak terlepas dari masalah kebakaran hutan. Kebakaran hutan yang terjadi merupakan dampak dari izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang diberikan kepada pengusaha. Pemerintah diharapkan dapat lebih selektif dalam memberikan izin HPH kepada pengusaha. Pengusaha yang diberikan izin diwajibkan untuk tidak membuka lahan dengan membakar hutan.
Komitmen pemerintah dapat dilihat dari adanya alokasi dana yang jelas untuk penanggulangan kabut asap ini. Selain itu kebijakan atas pelanggaran pembakaran hutan harus lebih tegas. Undang-undang tentang sanksi bagi pembakar lahan harus lebih tegas dan konsisiten untuk dijalankan. Jangan hanya karena takut kehilangan devisa pemerintah takut menindak pengusaha nakal yang masih membakar hutan sehingga masyarakat yang jadi korban.
Jika sudah ada komitmen yang kuat dari pemerintah dalam menaggulangi bencana kabut asap yang disebabkan dari pembakaran hutan ini maka kabut asap yang selama ini menjadi agenda tahunan di negara kita akan segara teratasi.
2. Kesadaran masyarakat
Masyarakat yang tinggal dipinggiran hutan hendaknya memiliki kesadaran yang kuat untuk tidak membuka lahan pertanian dengan membakar hutan. Masyarakat petani berpindah memiliki kebiasaan untuk membakar hutan setiap kali hendak memulai musim tanam. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat ini perlu dilakukan penyuluhan tentang bahaya kebakaran hutan kepada masyarakat. Masyarakat yang membakar hutan hendaknya diingatkan untuk menjaga lahan yang dibakarnya agar tidak merambat ke hutan yang berada disekitarnya.
Kesadaran masyarakat juga diharapkan dalam hal melaporkan jika terjadi kebakaran hutan. Jika segera dilaporkan diharapkan kebakaran tidak meluas dan dapat dipadamkan.
3. Pengawasan bersama
Pengawasan bersama perlu dilakukan antara pemerintah dengan masyarakat. Perlu bentuk sistem kewaspadaan kebakaran hutan yang selalau siap mengawasi setiap hutan yang terbakar. Pemerintah dapat mengoptimalkan peran polisi kehutanan dalam mengawasi hutan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bencana kebakaran kabut asap yang terjadi sungguh meresahkan kita semua. Bencana kabut asap disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kebakaran hutan, asap kendaraan bermotor, polusi pabrik, asap rokok dan lain sebagainya.
Dampak yang ditimbulkan dari kabut asap ini sangat luas mulai dari aspek kesehatan, ekonomi, sosial budaya, hubungan internasional dan lain sebagainya. Kandungan yang terdapat pada kabut asap yang berasal dari pembakaran huta sangat berbahaya bagi kesehatan. Karena besarnya dampak yang ditimbulkan tersebut maka perlu langkah yang serius dalam penanganan masalah kabut asap ini.
Penanganan bencana kabut asap ini perlu komitmen yang kuat dari semua pihak. Penanganan meliputi aspek kebijakan, kesadaran masyarakat, sistem pengawasan dan dana yang memadai. Sehingga diharapkan dikedian hari bencana ini tidak terulang.

3.2 Saran
Dari uraian makalah ini penulis perlu memberikan beberapa saran. Adapun saran-saran yang dapat diberikan antara lain :
1. Masyarakat pengguna lahan sebaiknya lebih menjaga kelestarian hutan agar tidak tejadi kebakaran yang dapat menyebabkan kabut asap.
2. Sebagai masyarakat yang akan kesehatan sebaiknya kita memberikan pengertian kepada masyarakat dalam menanggulangi dampak kesehatan dari kabut asap ini
3. Pemerintah sebaiknya mengeluarkan kebijakan yang jelas mengenai penanganan kabut asap.
4. Masyarakat sebaiknya memberikan dukungan kepada pemerintah dalam upaya penaggulangan kabut asap



0 komentar: